Jumat, 10 Oktober 2014

Segala puji hanya bagi Alloh SWT, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya.
Setiap muslim senantiasa merasa lezatnya rukuk dan sujud, bahkan bagi mereka yang berhati bersih dan bening mereka akan senang mengikuti cara Rukuk dan Sujud Rasulullah SAW, dengan membaca 10 kali tasbih dalam rukuknya. Contoh doa ruku’ misalnya Subhana robbiyal ‘adhim (Maha suci Alloh Tuhan yang Maha Agung) serta doa sujud misalnya Subhana robbiyal a’la (Maha suci Alloh Tuhan Yang Maha Tinggi).
Bagi mereka yang telah mencapai derajad bening hati, maka bacaan ruku dan sujud tersebut sesuatu yang amat mengesan dan dilantunkan penuh kecintaan hati untuk mengagungkan dan memuliakan Alloh Tuhan Semesta Alam, Alloh Yang Maha Agung. Sehingga sholat yang dijalankan semakin memberi rasa tenteram, bahagia, puas, dan lapang hati, hati yang puas untuk memuji Alloh SWT. Tuhan semesta Alam.
Sungguh Alloh Dialah Tuhan semesta Alam yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan layak bagi manusia untuk banyak Memuji dan Mengagungkan Alloh SWT. Karena memang Dia Alloh Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam. Tuhan Yang Maha Besar dari segala yang besar. Besarnya Makhluq semua adalah hasil ciptaan Alloh Yang Maha Besar.
Alloh SWT telah memberikan cakrawala yang luas tak terbatas kepada umat manusia lewat Al-Qur’an dan juga memberikan petunjuk kepada manusia lewat Rasulnya Muhammad SAW dengan As-Sunnah. Bahkan cakrawala hingga batas tak terhingga sampai alam akherat, alam kelanggengan manusia.
Dalam bentuk penjelasan alam yang dekat Alloh SWT telah membuka cakrawala aqal manusia untuk keajaiban tatanan Alam yang sangat besar. Seperti firman-Nya

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿١٢﴾

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. 41:12)

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ ﴿٥﴾

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (QS. 67:5)

Alloh SWT memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengarungi ke dalam alam ciptaanya yang sangat luas, dengan firman-Nya

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ ﴿٣٣﴾

Hai jama’ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. 55:33)

Pemberian kesempatan yang Alloh berikan kepada umat manusia, hingga jaman ini baru bisa dilakukan oleh bangsa-bangsa yang memiliki teknologi yang canggih. Berarti sebenarnya apa yang dikehendaki Alloh kepada Manusia agar manusia berani untuk belajar ilmu-ilmu yang canggih dan berani melihat tanda-tanda keagungan Alloh di segenap Alam Raya, Yang luas tak bertepi.
Alloh memberi kesempatan kepada manusia untuk menjelajahi Bumi, tentunya tidak hanya yang dipermukaaannya saja, bahkan yang terletak di dalam laut yang sangat dalam,manusia diperintah untuk melihat tanda-tanda keagungan Alloh di sana. Dan ternyata ilmu-ilmu yang canggih pula yang dapat sampai ke sana. Sehingga sebenarnya Alloh telah memerintah kepada manusia untuk Cerdas dalam hidup. Hidup untuk melihat tanda-tanda Keagungan dan Kemuliaan Alloh SWT di manapun.

Orang Cerdas, Apa yang Harus diutamakan
Alloh SWT memerintah manusia untuk melihat ke segenap ufuk alam untuk melihat tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan Alloh SWT dan kemudian diperintah untuk selalu beribadah kepada-Nya.

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً ﴿٤٤﴾

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 17:44)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴿٣٦﴾ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ﴿٣٧﴾

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS. 24:36)
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24:37)

Semua apa yang diperlihatkan oleh Alloh SWT kepada manusia adalah berujung kepada kecintaan, kebahagiaan, dan berserah diri, merendahkan diri untuk selalu tunduk patuh kepada Alloh SWT, pemilik seluruh Keagungan Dan Kebesaran.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)
Ibadah kepada Alloh SWT, merupakan perpaduan antara perasaan Kehampaan Diri, perasaaan Kepatuhan Diri, Perasaan Kehinaan diri, dihadapan Alloh SWT, Tuhan yang telah memberikan segala nikmat dan Karunia. Dan tumbuhlah pula dalam hati manusia untk kemudian, taat menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan Alloh, untuk mendapatkan kecintaan Alloh SWT. Tuhan Pencipta Segenap alam Raya, Tuhan pencipta dan pemelihara Semesta Alam

Ke hati-hatian Orang Cerdas dari Bujuk Rayu Syaiton
Segala perintah dan larangan Alloh adalah sesuatu wujud nyata kasih sayang Alloh SWT kepada umat manusia. Agar manusia selalu bisa dekat kepada Alloh dan bisa tetap tenteram, selamat, bahagia, di dalam hidupnya dimanapun.
Alloh SWT Tuhan yang Maha mengetahui akan segala ciptaannya, dan memberi tahu bahwa di sekeliling diri manusia ada makhluq ghoib tak kasat mata yang selalu mengajak manusia kepada jalan kebinasaan. Dan itu semua dijelaskan oleh Alloh dengan terang benderangdalam Al-Qur’an.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿٦﴾

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)
Dan Dia akan datang kepada orang-orang yang terus menerus membangkang kepada Alloh dan telah dikutuk oleh Alloh SWT

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُواْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْاْ رُسُلَهُ وَاتَّبَعُواْ أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ ﴿٥٩﴾ وَأُتْبِعُواْ فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا إِنَّ عَاداً كَفَرُواْ رَبَّهُمْ أَلاَ بُعْداً لِّعَادٍ قَوْمِ هُودٍ ﴿٦٠﴾

Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (QS. 11:59)
Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Huud itu. (QS. 11:60)

Manusia yang telah diberi kecerdasan dan kemuliaan oleh Alloh, bila tidak mau mengikuti jalan petunjuk Alloh dan mengikuti syaitan, maka aka diajak oleh syaitan kepada jalan yang dimurkai dan dikutuk oleh Alloh SWT.
Bukan kecerdasan aqal saja yang dibutuhkan namun disamping cerdas, yang lebih dikedepankan lagi adalah perasan tunduk, takut dan taqwa kepada Alloh SWT

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾

Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 35:28)

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ وَجَاء بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ ﴿٣٣﴾

(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,” (QS. 50:33)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴿١٢﴾

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 67:12)
Hidup manusia di dunia adalah hidup untuk selalu dalam beriman dan beramal sholih, hidup dengan melihat tanda-tanda keagungan dan kebesaran Alloh dan disertai dengan Rasa Taqwa. Alloh Dialah Tuhan yang menghendaki manusia untuk selalu selamat dan bahagia di dunia dan di akherat dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallohu a’lam

sumber: www.mta.or.id
Segala puji bagi Alloh, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.
Seorang Nabi utusan Alloh adalah manusia tauladan yang harus diikuti oleh setiap manusia yang ingin sukses di dunia dan di akherat. Namun selalu saja Nabi dan Rasul Alloh, biasanya diutus oleh Alloh di saat umat manusia mengalami kemerosotan akhlaq, kemerosotan budi pekerti. Seorang Nabi dan Rasul biasanya sebagai manusia yang harus berkurban jiwa dan raga untuk bisa mengangkat kembali umat manusia untuk sadar dan kembali menuju kepada jalan kemuliaan akhlaq dan budi pekerti jalan kebajikan yang diridhoi Alloh SWT.
Bila manusia mengartikan KEBAJIKAN sebagai amal sholih, yaitu suatu perbuatan yang mutlak bermanfaat bagi segenap manusia, maka kebajikan harus memiliki fondasi yang kokoh, yaitu iman. Iman adalah keyakinan yang bersifat immateriil yang dapat menghadirkan kebahagiaan jiwa.   Manusia akan dapat merasakan nikmatnya kebahagiaan jiwa, bila mampu menahan diri (puasa) dari kenikmatan dari rayuan syaitan dan hawa nafsu.
Islam telah mengajarkan tentang rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Alloh, kepada Malaikat, kepada Kitab Alloh, Kepada Rasul Alloh, Kepada Hari Akhir, dan kepada Taqdir. Bila seorang Islam mau membaca penjelasan ringkas tentang rukun Iman, maka semua hal tersebut bersifat Ghoib, namun dapat dirasakan bukti nyata di hati bagi mereka yang telah mengamalkannya.

Iman Kepada Alloh Dan Hari Akhir
Ketika seorang islam membaca surat Al-Fathehah 17 kali sehari, bila hati bersih dari noda-noda dosa, maka manusia diajari oleh Alloh untuk mensyukuri nikmat hidup, dan meyakini sebaga sesuatu hal yang diperbuat adalah dalam rangka bersyukur kepada Alloh, Alloh telah memberi nikmat hidup. Dengan kasih sayang Alloh manusia bisa hidup di muka bumi, dan diperintah untuk selalu memuliakan dan mengagungkan Alloh yang telah memberi nikmat hidup.
Manusia diperintah dan diingatkan bahwa nanti di akherat ada saat pengadilan dari Alloh SWT bagi seluruh makhluq. Dan manusia diperintah untuk menempuh jalan ketaatan kepada-Nya, dengan menyembah-Nya dan mohon pertolongan hanya kepada-Nya saja.
Alloh memerintah kepada manusia untuk selalu mendekat kepada Alloh, agar menempuh jalan yang dicintai Alloh dan menjauhi segala jalan yang dimurkai Alloh dan jalan kesesatan yang ada selalu menggoda manusia.
Rukun iman adalah pendidikan universal bagi jiwa, pengajaran tak kasat mata, agar jiwa manusia bisa meminimalkan sifat-sifat buruk pada dirinya, dan kemudian menumbuhkan sifat-sifat baik, yang balasan atas perbuatan baik itu pasti di dapatkan di dunia atau di akherat,
Namun perlu diketahui bahwa kadang kebaikan-kebaikan yang harus dijalani itu kadang banyak tidak bersesuaian dengan keadaan lingkungan yang sedang mengalami kemunduran akhlaq dan budi pekerti. Sebuah perjuangan yang biasanya sangat berat, dan biasanya dipikul oleh para Nabi dan Rasul, dibantu dengan kekuatan dari Alloh SWT.

JABATAN berubah menjadi KEBAJIKAN
Alloh SWT telah mendidik orang-orang beriman untuk memahami sebuah kebajikan sebagaimana firman Alloh

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧﴾

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:177)

Alloh Swt memerintah kepada Nabi Daud untuk bisa menetapi kebajikan adalah dilakukan dengan pengendalian diri, dengan pengendalian yang super ketat

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ﴿٢٦﴾

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)

Nabi Daud telah memenuhi perintah Alloh tersebut diantaranya dengan amal-amal yang sangat terkenal sebagaimana Hadist Rasululloh

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صَلَاةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَهُ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُومُ يَوْمًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Puasa yang paling Allah ta’ala senangi adalah puasa Daud, dan shalat yang Allah ta’ala senangi adalah shalat Daud, ia tidur setengahnya dan melakukan shalat sepertiganya, dan tidur seperenamnya, dan beliau berbuka satu hari dan berpuasa satu hari.”(HR Abu Daud 2092)

Sebagaimana bulan romadhon, yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang rajin mengendalikan hawa nafsu dengan berpuasa dan seluruh energi dipusatkan untuk digunakan beribadah kepada Alloh, maka manusia telah berusaha keras untuk meniti jalan-jalan kebaikan yang Alloh tunjukkan. Dan Alloh yang pasti akan mensyukurinya dan akan memberikan Hikmah dan kebaikan-kebaikan kepada diri manusia yang patuh kepada-Nya

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٢٦٩﴾

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

…. وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً ﴿٤﴾

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. 65:4)

Kebajikan tidaklah bisa muncul dalam diri pribadi yang tidak memahami bagaimana sebab musabab kebajikan itu mampu menyembul dari dalam hati seseorang. Bila Manusia telah menempuh jalan-jalan kearifan, maka jiwa seseorang mampu menjadikan apapun yang di kelola menjadi sebuah kebajikan.
Bahkan kekuasaan pun bisa menjadi sebuah kebajikan, sebuah implementasi manusia dalam beribadah kepada Alloh SWT. Tuhan semesta Alam yang akan memberi kebaikan, kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Disyukuri dengan cara berbuat baik kepada orang lain.
Alloh SWT telah mengingatkan kepada manusia-manusia yang menerima kenikmatan yang besar dari Alloh untuk digunakan nikmat dan amanah itu ke dalam kemaslahatan dan kebaikan sesama secara baik dan seluas luasnya.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾


Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

Kekuasaan bisa menjadi aset luar biasa yang menjadikan manusia untuk selamat dan bahagia di dunia dan di akherat, namun kekuasaan di tangan seseorang sering-sering bisa juga berubah menjadi malapetaka dan membawa mereka lupa kepada Alloh dan menjauh dari Alloh. Karena begitu kuat dan manisnya sebuah kekuasaan di tangan seseorang. Wallohu a’lam.

Sumber: www.mta.or.id
YANG SEDANG DIUJI. Kehidupan di dunia yang kita lalui tidaklah selalu seperti yang kita harapkan, suka dan duka datang silih berganti. Suatu saat kita bisa berada dalam kesenangan karena semua kebutuhan tercukupi, kadangkala merasa sedih karena segala sesuatu tidak seperti yang kita harapkan.
Keadaan seperti ini sering terjadi pada kehidupan kita, juga pada masyarakat disekitar kita. Namun demikian bagi orang yang beriman irama suka dan duka kehidupan adalah hal yang biasa. Pada saat kita mendapatkan sesuatu yang menggembirakan hendaklah bersyukur, sedang kalau lagi mendapat kesusahanN haruslah bershabar.
Bagi orang yang beriman akan selalu berpegang dan tha’at kepada aturan Allah dan Rassul-Nya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Orang beriman akan selalu bersyukur atas ni’mat yang Allah berikan kepadanya.
Syukur yang tidak hanya sebatas lisan, akan tetapi diwujudkan dalam perbuatan, yakni dengan makin tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyatakan :

عَجَبًا لِاَمْرِ الْمُؤْمِنِ، اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ. وَ لَيْسَ ذَاكَ لِاَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ. اِنْ اَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَ اِنْ اَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Mengagumkan sekali urusannya orang mukmin itu. Sesungguhnya urusannya, semuanya menjadi kebaikan baginya. Dan tidak ada yang mendapatkan demikian itu seseorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, bersyukur. Maka yang demikian itu adalah menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa suatu mushibah, bershabar. Maka yang demikian itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2295]
Sebenarnya seseorang yang sedang ditimpa mushibah atau kesusahan dan kekurangan, maka itu hanya ujian semata yang Allah berikan kepadanya. :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّاِرِيْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang shabar, [QS Al-Baqarah : 155]
Demikianlah Allah menguji kita dengan suatu yang mengkhawatirkan, bahkan rasa ketakutan akan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan lainnya, semua ujian tersebut akan berlaku atas siapa saja, dan bisa terjadi pada siapa saja atas kehendak Allah. Hanya orang-orang yang beriman dan khusyuk yang akan melewati itu semua dengan kesabaran, dan keikhlasan bahwa yang terjadi hanyalah ujian semata. Karena orang yang beriman yakin bahwa Allah akan menolongnya, dan Allah SWT akan memberikan petunjuknya, seperti dalam firmannya:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخَاشِعِيْنَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan shabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, [QS Al-Baqarah : 45]
Pertolongan yang diharapkan oleh orang yang beriman bukan saja melingkupi kehidupan dunia saja, melainkan juga kehidupan akhirat. Justru yang lebih penting adalah untuk keselamatan di akhirat nanti.
Orang yang beriman dan khusyu’ dalam menjalankan ibadahnya akan mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia. Karena kehidupan di dunia adalah kehidupan yang menipu dan hanya sebatas kehidupan yang tidak boleh dilupakan.
Sangat berbeda sekali antara sikap orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. Orang yang tidak beriman ketika mendapatkan kesenangan mereka lupa akan diri, bahkan cenderung semakin memperturutkan hawa nafsunya dan semakin rakus untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli asalnya. Halal atau Haram.
Celakanya kalau mereka merasa dirinya sudah berkecukupan, maka tindakannya bisa melampaui batas. Dunia maunya dikuasainya, dan merasa bahwa semua bisa dibeli dengan hartanya, dan semua apa yang diinginkan bisa terpenuhi. Hidupnya menjadi budak nafsu, bangga dengan kekayaannya, bangga dengan kedudukannya, dan bangga pula dengan apa yang dimilikinya. Tanpa sadar merasa dirinya melebihi segalanya, bahkan berlaku dhalim pun dianggap hal yang biasa. Seperti disebut dalam firman Allah (QS Al-’Alaq : 6-7) :

كَلَّا اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَيَطْغٰى، اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena merasa bahwa dirinya serba cukup. [QS. Al-'Alaq : 6-7]
Demikianlah dikabarkan oleh Allah tentang sifat manusia yang sangat melampaui batas, manakala dirinya merasa serba cukup. Dan ini sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita. Ada yang dicukupkan hartanya, dia gunakan untuk berbuat ma’shiyat, dia kufur terhadap Allah, berpaling dari kebenaran.
Merasa dirinya lebih dari yang lain, dan merasa apa yang dia miliki adalah dari hasil dari usahanya sendiri, bukan dari karunia Allah. Orang-orang seperti inilah yang sangat melampaui batas.
YANG MELAMPAUI BATAS
Namun demikian ada juga orang-orang yang mengaku dirinya ulama berilmu, yang dengan ilmunya mereka berbuat melampaui batas. Mereka jual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di dunia, mereka rela melakukan penipuan terhadap masyarakat dengan menggandalkan gelar keagamaan yang dibuatnya sendiri.
Masyarakat dibodohi dengan pengakuannya memiliki kekuatan ghaib, padahal semua itu bohong belaka. Bahkan diantara mereka ada yang berusaha menghambat masyarakat untuk berpikir cerdas. Yaitu dengan menghalangi tersebarnya Al-Quran dan As-Sunnah.
Mereka enteng saja menyebar fitnah bahwa orang yang belajar Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung akan terkena racun, jadi masyarakat harus belajar melalui perantara. Dan masyarakat harus mengikuti apa kata guru mereka, bukan mengikuti petunjuk, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.
Orang-orang seperti inilah yang sangat getol menentang berkembangnya syiar Islam yang benar-benar sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Karena mereka akan merasa kehilangan kepercayaan dari masyarakat, kehilangan pamor, dan yang jelas kehilangan orang-orang yang bisa ditipunya. Orang Jawa menyebutnya, “Wedi kelangan upo” (takut kehilangan lahan penghasilan).
Banyak yang mengaku kyai dan mengaku memiliki kemampuan ggaib yang bisa melakukan apasaja yang diingini pelanggan, mulai dari menyembuhkan penyakit, meramal nasib, dan mendatangkan rejeki. Semua itu adalah kebohongan yang besar, tidak seorangpun di dunia ini yang bisa melihat sesuatu yang ghaib. Angin yang bisa dirasakan oleh tubuh kita saja tidak bisa dilihat, apalagi sesuatu yang dzatnya tidak nampak dan tidak bisa dirasakan.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَشْتَرُوْنَ بِه ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari qiyamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [QS Al-Baqarah :174]
Ada beberapa orang yang merasa memiliki ilmu agama mendalam, namun ilmunya digunakan untuk memecah belah ummat Islam itu sendiri. Karena merasa dirinya paling benar, sehingga menyalahkan yang lain, menghina, bahkan sampai ada yang menghujat saudaranya seiman, na’uudzu billaahi min dzaalik.
Mereka mempublikasikan hujatan-hujatan mereka di media sosial, hingga terjadilah panggung hujat-menghujat sesama ummat Islam yang dijadikan konsumsi publik, akhirnya peluang ini dimanfa’atkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, untuk mengambil keuntungan.
YANG MENYERU KEMBALI KE AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.
Akan tetapi masih ada sebagian manusia yang mau berpikir dan berusaha merubah tatanan kehidupan menjadi tatanan yang adi, mereka datang bukan dari golongan orang kaya, juga bukan dari golongan penguasa. Mereka ini terlahir dari berbagai suku, dari berbagai strata ekonomi, dari berbagai tingkatan pendidikan.
Baik yang berasal dari orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, maupun mereka yang punya gelar Doktor maupun Proffesor. Mereka semua berkumpul sebagai golongan orang yang beriman yang mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah, untuk kemudian diamalkan.
Dan mengajak ummat Islam seluruhnya untuk kembali memurnikan keislaman dengan beriman dan kembali pada Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.
Mereka terjun dalam perjuangan yang berat untuk membawa ummat Islam kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka juga harus berhadapan dengan orang-orang yang memusuhinya, dicaci, dihujat bahkan harus berhadapan dengan orang-orang yang sangat melampaui batas yang menghalangi orang untuk mendapatkan petunjuk. Maka Allah berpesan kepada orang-orang yang shabar dalam keimanan :

وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصٰبَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْآ اِنَّا لِلّٰهِ وَ اِنَّا اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

Maka berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang shabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. [QS. Al-Baqarah : 155-156]

sumber: www.mta.or.id
Segala puji hanya bagi Alloh, Shalawat dan salam untuk Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa mengikuti jalan petunjukNya, salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.
Dalam Dunia Prasejarah hingga Zaman Sejarah dan Zaman Pasca Sejarah, penyakit umat manusia yang paling parah adalah penyakit jiwa, yaitu penyakit Melupakan Alloh dan tidak mau mengenal Alloh Tuhan Sang Pencipta dan pemilik semesta Alam.
Ketika Estafet agama yang lurus telah memudar, maka zaman berubah dari manusia-manusia yang sadar akan keberadaan dan ke Maha Kuasaan Alloh, menuju pada zaman yang gelap tidak lagi mengetahui kekuasaan Alloh apalagi beribadah kepada-Nya.
Islam telah diberi Rasul Terakhir, rasulullah Muhammad SAW, yang meluruskan kembali tentang bagaimana manusia mengenal Alloh, Alloh sebagai Tuhan pencipta semesta Alam, Alloh sebagai Tuhan Yang Esa yang kepadaNya semua makhluq menyembah dan taat, dan Alloh Dia Tuhan yang memiliki Kemuliaan yang Maha Mulia. Tauhid Rubbubiyah, Tauhid Ilahiyah dan Tauhid Asma’ wa Sifat, menjadi rujukan Para Da’I umat Islam dalam menyampaikan Islam ke segenap penjuru bumi.

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ مُفْتَرُونَ ﴿٥٠﴾

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata:”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. 11:50)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿٣٦﴾

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ ﴿٢﴾

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. (QS. 39:2)

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿١٤﴾

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. 40:14)

Rasulullah Muhammad Telah ditunjuk oleh Alloh SWT untuk menjadi saksi bagi segenap Nabi dan Rasul bahwa para Nabi dan Rasul telah menyampaikan firman-firman Alloh kepada umat-umat mereka masing-masing, demikia pula bahwa Para Nabi telah menjadi saksi pada umatnya bahwa mereka telah menyampaikan firman Alloh, demikian pula para Da’I umat Islam, bahwa mereka telah menjadi saksi untuk menyampaikan Islam dengan benar kepada umat manusia, sebagaimana firman-Nya.

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ ﴿٧٨﴾

Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 22:78)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً ثُمَّ لاَ يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ وَلاَ هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ ﴿٨٤﴾

Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta ma’af. (QS. 16:84)

Dengan Al-Qur’an yang telah memuat kisah-kisah para Nabi dan Rasul sepanjang zaman hingga sunatulloh yang akan dihadapi para Da’I Umat Islam hingga akhir zaman, menunjukkan bahwa semua umat manusia telah Alloh beri jalan-jalan ilmu untuk mengenal Alloh, dan beribadah kepada Alloh SWT. Tidak ada umat kecuali Alloh telah mengutus Nabi kepada mereka, agar mereka mengetahui siapa Alloh, dan kemudian mengenal Alloh sebagai dzat pencipta, pemelihara dan menyantuni segenap alam ciptaannya. Dan kemudian agar manusia rajin beribadah dan taat kepadanya untuk selalu dalam jalan Selamat, jalan Rahmat dan Barokah Alloh, jalan Bahagia dari Alloh SWT.

وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلاً لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيماً ﴿١٦٤﴾ رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً ﴿١٦٥﴾


Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. 4:164)
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:165)

Para Nabi, Rasul dan Da’I yang sungguh-sungguh mengikuti jejak para Nabi dan Rasul pasti Alloh akan memberikan ke dalam jiwa mereka perasaan yang tepat dalam menghadapi umat, sebagaimana Rasulullah telah diberi ilmu oleh Alloh kepadanya sebagaimana firman-Nya

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. 9:128)

Setidaknya rasa prihatin para Da’I adalah disebabkan akan rasa tanggung jawab mereka dihadapan Alloh. Bila manusia terus menerus ingkar kepada Alloh, maka Alloh berkenan menurunkan adzab dan siksa kepada mereka, sebagaimana firman-Nya.

وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ ﴿١٦٤﴾

Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata:”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras”. Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa”. (QS. 7:164)

Diutusnya para Nabi Dan Rasul Alloh dan demikian para Da’I umat Islam, agar umat manusia kembali kepada jalan-jalan yang di ridhoi oleh Alloh, dan agar mereka semua kembali ke jalan Alloh, jalan selamat, jalan Rahmat, jalan penuh Barokah Alloh, jalan yang Bahagia di dunia dan di akherat. Sungguh Adzab Alloh yang ditimpakan kepada orang-orang kafir sungguh sangat-sangat pedih. Semoga Alloh menyelamatkan kita dari murkaNya.   Wallohu a’lam.

sumber:www.mta.or.id

Sabtu, 04 Oktober 2014

 1. 28-09-2014 Qurban
 2. 21-09-2014 Sholat Safar 2
 3. 14-09-2014 Sholat Safar 1
 4. 07-09-2014 Sholat Sunnah 4
 5. 31-08-2014 Sholat Sunnah 3
 6. 24-08-2014 Sholat Sunnah 2
 7. 17-08-2014 Sholat Sunnah 1
 8. Pernyataan Sikap MTA for ISIS
 9. 10-08-2014 Puasa Sunnah 2
10.03-08-2014 Puasa Sunnah 1
11.28-07-2014 Khutbah Iedhul Fithri 1435H
12.27-07-2014 Sholat Ied
13.20-07-2014 Zakat Fithrah
14.13-07-2014 Sekitar Ramadlan
15.06-07-2014 Sholatul Lail
16.Materi-3 Nafar Ramadlan 1435H
17.Materi-2 Nafar Ramadlan 1435H
18.Materi-1 Nafar Ramadlan 1435H
19.29-06-2014 Puasa
20.22-06-2014 Mempersulit atau Berlebihan dalam Agama
21.15-06-2014 Khalifah Abubakar 33
22.08-06-2014 Islam Agama Tauhid 61
23.01-06-2014 Tentang Nishfu Syaban
24.25-05-2014 Larangan Dengki
25.18-05-2014 Fadlilah Bulan Rajab
26.11-05-2014 Wajib Taat Allah & Rasul 10
27.04-05-2014 Khalifah Abubakar 32
28.27-04-2014 Islam Agama Tauhid 60
29.20-04-2014 Anjuran Shodaqoh
30.13-04-2014 Wajib Taat Allah & Rasul 9
31.06-04-2014 Khalifah Abubakar 31
32.30-03-2014 Islam Agama Tauhid 59
33.23-03-2014 Memberi Nafkah Keluarga
34.16-03-2014 Jaga Persatuan & Jauhi Perpecahan
35.09-03-2014 Wajib Taat Allah & Rasul 8
36.02-03-2014 Islam Agama Tauhid 58
37.23-02-2014 Khalifah Abubakar 30
38.16-02-2014 Menyambut Kelahiran Anak
39.02-02-2014 Islam Agama Tauhid 57
40.26-01-2014 Pentingnya Tabayyun
41.05-10-2014 Aqiqah
42.19-01-2014 Wajib Taat Allah & Rasul 7
43.12-01-2014 Khalifah Abubakar 29
44.05-01-2014 Muhaasabah
45.29-12-2013 Pemeliharaan Anak
46.22-12-2013 Islam Agama Tauhid 56
47.15-12-2013 Wajib taat Allah & Rasul 6
48.08-12-2013 Khalifah Abubakar 28
49.01-12-2013 Ruju'
50.24-11-2013 Islam Agama Tauhid 55         

Sumber:http://www.mta.or.id                        
Telah ditunjukkan oleh kehidupan nyata selama beratus-ratus tahun, bahwa manusia telah gagal membangun masyarakat industri yang religius. Pada pertumbuhannya masyarakat industri biasanya terseret menuju masyarakat materialisme, atheisme atau sekuler. Dan pada saat ini meterialisme, atheisme atau sekuler telah menjadi filsafat global sehingga kebanyakan umat manusia dimuka bumi lebih senang menganut faham materialis, atheis atau sekuler dibanding mengaku menjadi masyarakat religius. Apakah memang demikiankah sunatullahnya bahwa manusia-manusia yang sibuk dengan urusan dunia kemudian akan masuk kedalam kepribadian materialis, atheis atau sekuler. Tidak sedikit ilmiawan yang telah mampu menciptakan instrument-instrumen canggih untuk melihat keajaiban-keajaiban alam lebih suka menyatakan dirinya sebagai materialis atau atheis dari pada mengaku sebagai penganut agama yang ta’at.
Revolusi industri di berbagai belahan bumi baik dijaman yang lampau hingga zaman sekarang inipun telah menampakkan perilaku yang sama, suburnya industrialisasi biasanya diikuti oleh langkah berikutnya yaitu tumbuhnya masyarakat yang materialis atau atheis.
Harunyahya.com, sebuah situs yang berpusat di Turki telah berusaha mengenalkan kepada dunia bagaimana mengatasi gejala buruk yang telah menjangkiti manusia secara global. Penemuan-penemuan abad 20 telah menyadarkan kepada para ilmiawan akan adanya kesalahan filsafat manusia yang tumbuh pada abad 19 dan pada saat awal-awal revolusi industri.
Sebagian ilmiawan mulai tersadarkan kembali tentang sifat keajaiban kejadian alam, baik mikrokosmos maupun makrokosmos. Dan dapat dikatakan bahwa sebagaian ilmiawan abad ini telah kembali menemukan “TUHAN SEMESTA ALAM”. Para ilmiawan dibawa kepada kesadaran adanya sesuatu kekuatan besar dibalik adanya alam semesta, mereka mengatakan alam raya adalah sebagai Hasil Rancangan Cerdas (Intelligent Design), siapakah perancang cerdas itu ?, tiada lain dialah ALLAH , Tuhan yang Maha Esa, Tuhan Pencipta, Pemilik dan Pemelihara semesta alam.
Seseorang yang telah mendalami dan menghayati Al-Qur’an dan As-Sunnah akan segera mendapat jawabannya tentang masalah diatas sebagaimana firman Allah yang artinya :
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. 45:24)
Tradisi terbentuknya masyarakat materialis atau atheis dalam perkembangan masyarakat Industri, disebabkan karena manusia tidak mampu melawan kelemahan dan kekurangan yang ada pada hatinya yaitu sifat “rakus kepada dunia dan suka memperturutkan memuaskan hawa nafsu”. Manusia akan kehilangan kesadarannya bahwa dia diciptakan oleh Allah dengan tugas untuk beribadah mengagungkan ALLAH. Dan disebabkan karena revolusi industri biasanya dibawa kepada budaya ” bersenang-senang untuk memuaskan hawa nafsu”.
Kesibukan manusia dalam mengurusi dunia telah melupakan manusia untuk ingat dan beribadah kepada Allah. Dengan kesibukan dunia yang berlebihan banyak manusia yang kehilangan iman dihatinya. Ujian iman adalah ujian bagi umat manusia sepanjang zaman. Ketika umat manusia banyak berta’at kepada Allah maka iman akan menjadi bertambah, sebaliknya ketika umat manusia banyak berma’siyat kepada Allah iman akan menipis bahkan bisa sirna.
Bagaimana umat manusia mensikapi perubahan zaman yang sangat cepat dihari ini, tidak ada lain kecuali kembali kepada JALAN LURUS yang telah Allah tetapkan untuk umat manusia,
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. Al-Faatihah[1]: 5)
Kemudian benar-benar menyadari bahwa Allah telah membentuk dirinya dari setetes air mani dan memberi kesempatan kepadanya untuk hidup di muka bumi dan kemudian ditugasi oleh Allah untuk melihat tanda-tanda keagungan Allah dan semakin khusus’ taat kepada Allah.
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali-’Imran: 6)
Kesabaran manusia untuk mentaati petunjuk Allah merupakan JALAN LURUS yang akan menyadarkan jiwa manusia akan jati dirinya. Menyadari bahwa Allah telah memberi kesempatan kepadanya untuk hidup di muka bumi melihat tanda-tanda keagungan Allah
Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d: 2)
Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Ar-Ra’d: 3)
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ra’d: 4)
Masyarakat industri dapat tetap terjaga keimanannya bila mereka benar-benar menyadari hakekat dari penciptaan. Kecanggihan alat-alat yang diciptakan digunakan untuk berta’at kepada Allah dan semakin khusu’ mengakui keagungan Allah dalam setiap ciptaannya.
Yang menjadikan rusaknya akhlaq dan agama masyarakat modern bukan disebabkan karena pesatnya industrialisasi, tetapi lebih disebabkan karena mereka telah membangun dunia untuk sekedar bersenang-senang memperturutkan hawa nafsu, dan dengan sebab itu membuat semakin mempertebal dosa, mempertebal kekotoran dalam hatinya, sehingga hatinya semakin gelap dari melihat tanda-tanda keagungan Allah. Padahal tugas utama manusia adalah untuk beribadah, bertasbih mengagungkan Allah
Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih Kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Bertasbih (me Maha Sucikan) kepada Allah menuntut manusia untuk selalu hidup dalam kesucian Hati dan perbuatan. Dialah Allah Tuhan Yang Maha Suci, Maha Mulia dan Maha Tinggi, Hanya makhluq-makhluq nya yang mensucikan diri yang dapat melihat tanda-tanda KeagunganNYa. Dosa membuat manusia terasing dari Allah Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Mulia.
Allah sendiri telah memberi jalan bagaimana cara menjaga kesucian hati umat manusia dengan nasehatNya
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-’Ankabuut: 45)
Membaca, belajar dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan tekun, dan disiplin dalam mengerjakan dan menegakkan shalat dapat menjadi benteng yang kuat dalam diri manusia menghadapi perkembangan zaman yang semakin maju dan sibuk.
Wallahu’alam
sumber: http://www.mta.or.id